Tag Archives: menarik untuk dibaca

Pembelaan Untuk Orang-Orang Kalah

Aku ketakutan, resah, dan merasa kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Tapi sepertinya tidak apa-apa, tidak perlu murung dan merasa kiamat sudah dekat, biasa saja. Sebab bukankah memang ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya. Dengan tabah. Kalau boleh dengan riang gembira, tentu lebih baik lagi.

Ketika aku menemui orang-orang yang berderet, berbaris, berkumpul, membentuk kerumunan-kerumunan, aku selalu beranggapan ada yang mereka sepakati dan mereka tunggu bersama. Sebagai sebuah tujuan kolektif. Mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu, sebab segalanya dalam hidup ini memang memerlukan persiapan. Hidup kadang tak mahu berpihak pada mereka yang malas mempersiapkan. Selalu, setiap harinya aku menyaksikan kerumunan orang-orang yang bersiap dan bergegas adalah mereka yang menjadi pemenang, atau paling tidak sedang berada di jalur menuju kemenangan.

Orang-orang bergegas, berpakaian rapi, berparas rupa menarik, mencukur kumis, memotong rambut, wangi tubuhnya menyebar ke seluruh sudut. Mereka membaca buku, menghadiri diskusi atau bedah buku, berdebat, musyawarah-mufakat, menekuni kuliah dan tak lupa juga untuk bercinta.

Mereka menamatkan beberapa gelaran akademik, membuka bercabang-cabang perniagaan, pergi ke bank, gimnasium, perpustakaan, mereka pergi juga ke taman kota, pusat hiburan, pusat perbelanjaan. Orang-orang membangun nama, membentuk sindiket, memperluas jejaring pertemanan; membuka sejumlah kemungkinan-kemungkinan, menjaga citra, menyusun pundi-pundi ketenaran, dan aku merasa semakin terasing. Aku semakin terancam, rapuh, renta, membusuk, dan punah. Bahkan sebelum semuanya dimulai.

Semua itu semakin membuatku terbebani dengan ancaman bahawa hidup kelak akan berlangsung lebih keras, lebih membosankan, lebih memuakkan, dan tentu saja lebih melelahkan. Aku semakin tegang, panik, terasing, dan cenderung menjadi malas, semenjak dari cara mempersiapkan hidup.

Tentu selalu ada saja barisan orang yang enggan seperti aku. Orang-orang yang suntuk dan muram. Mereka masih saja duduk-duduk malas di warung kopi, masih saja ada yang bersembunyi dari rombongan yang bergegas di balik tingkap bilik yang buram. Mereka berkata, kami adalah orang-orang yang kalah.

Kota sudah mulai bersiap kembali memulai hari yang baru. Kebisingan yang baru, demonstrasi yang baru, dan segala kriminalitasi yang sudah siap menguntit siapapun yang lengah. Embun tidak ada di kota ini, bahkan mungkin cucuku nanti hanya akan mendengar embun dalam cerita-cerita romantik. Seperti aku yang hanya mampu mendengar ladang subur, ternak makmur, hutan yang kudus, dan masyarakat yang sejahtera dengan segala budaya luhurnya di epik-epik purba. Yang tertinggal hanyalah patung, lukisan, sajak, cerita, dan lagu-lagu. Tapi karya seni macam apa yang mampu untuk ditinggalkan di kota yang terlalu sibuk seperti ini? Warisan apa yang akan kita berikan pada generasi setelah kita?

Pagi, bagi kami hanyalah sebentuk persiapan-persiapan singkat menuju kerja. Selalu, sarapan yang singkat, sedikit membaca headline suratkhabar, sececap kopi dan rokok yang tidak pernah habis, juga sedikit kucupan isteri atau sedikit sapaan sayang dari kekasih. Sedikit, sedikit saja. Sebab efektivitais dan efisiensi sudah terlalu sering didengungkan di telinga kami. Sebab sedikit saja kami lambat, di akhir bulan isteri sudah merengek meminta telivisyen baru yang tidak terbeli; mimipi-mimpi yang tidak tercukupi. Sementara para jaguh korporat dengan strategi pemasarannya semakin membuat kami terduduk. Terlalu banyak yang tidak mampu kami beli, terlalu banyak mimpi yang seolah kami perlukan.

Hidup hanyalah sebentuk ruang tunggu. Manusia datang dan pergi, kehidupan tak pernah beranjak walau sedikitpun. Konon, energi dalam kehidupan ini kekal, terus menerus ulang-mengulang dan memperbaharui dirinya dengan sistem evolusi genetik yang rumit. Ia menetap, selalu ada, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi tidak ada. Sebab tidak mungkin dari ada menjadi tiada. Sama tidak mungkinnya dari tidak ada menjadi ada. Berubah bentuk, mungkin.


Ini semua seperti kesibukan jalan-jalan ibu kota negara dunia ketiga pada hari yang teramat terik. Matahari seperti mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk memberi panas pada kota ini. Asap-asap kendaraan yang tergesa, membumbung memenuhi langit kota. Udara terasa berat, pengap, dan tidak mengabarkan apa-apa selain rasa lelah yang sudah hampir tidak tertangguhkan lagi. Langit seperti hendak runtuh. Lalu terdengar bunyi siren polis yang memekakkan telinga. Seolah terjadi sesuatu yang amat genting. Teramat penting. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Hanya rombongan menteri yang tergesa-gesa untuk menghadiri mesyuarat karana ia lewat bangun pagi, mungkin kerana semalam baru saja bercinta dengan perempuan simpanannya.

Ini semua seperti percakapan yang terusir dari meja, kemudian mencari tempat berdiamnya masing-masing. Ruang lengang serupa geng-geng ibukota selepas pukul tiga. Ada gelap dan dingin sekaligus pendar cahaya redup dalam keharusan yang tidak perlu. Seperti lampu-lampu kota, terduduk memunggungi nasibnya masing-masing.

Ini semua seperti keriuhan pesta perayaan ulang tahun. Teman, sahabat, rakan kerja, semua bersorak gembira. Gelas-gelas kosong, botol-botol bir tergeletak sembarangan. Musik, dansa-dansi, hingga pagi. Seolah ada yang benar-benar penting untuk dirayakan. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Hanya usia yang bertambah dan waktu yang menelanjangi sisa-sisa jatah hidup.

Ini semua seperti percintaan yang romantis dengan kekasih. Bunga-bunga, sajak-sajak, cerita-cerita, nama-nama kota, percakapan-percakapan, jalan-jalan, lagu-lagu, filem-filem. Semuanya nampak menjadi penuh erti. Berjalan berdua di bawah payung di waktu petang yang hujan, masuk angin pun tak jadi soal. Semua nampak romantis. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Percintaan, pada gilirannya hanya memberikan pilihan untuk menetap dan saling menyakiti atau pergi dan saling melupakan.

Ini semua seperti kehidupan yang seolah-olah nyata, benar-benar sedang berlangsung. Hanya saja, dalam perjalanan ini, tidak ada tujuan pasti.


Cerpen ini diambil dari laman Medium Azhar Rijal Fadlilah. Anda boleh baca versi berbahasa Indonesia DI SINI.

Hanya Orang Tolol Yang Percaya Sukab!

Dari luar, ATM nampak lengang. Cermin kacanya berembun disebabkan pendingin hawa yang dibiarkan tetap menyala dingin di malam hari. Hanya satu dua kenderaan saja yang nampaknya melintas di situ, trak-trak besar dengan muatan yang hampir kelihatan mustahil untuk diangkut. Lampu-lampu jalan yang pastinya terus harus menyala, nampak seperti keletihan untuk terus menjalankan tugas.

Baca lagi

Beberapa Jam Sebelum Seseorang Menemukan Mayatku

Seseorang akan membekap mulutnya sendiri, satu atau dua jam sebaik saja aku habis menulis kisah ini, kerana ia amat terkejut sewaktu ia menemui mayatku.

Mungkin, ia pegawai hotel yang menghantar sepiring nasi goreng ikan masin, tiga botol bir bintang, satu gelas kosong, dan bekas kecil berisi potongan-potongan ais, dua jam yang lalu, kira-kira empat jam sebelum pisau ibuku merobek perut anaknya.

Dia juga lelaki yang sama, dengan senyuman yang selalu nampak seperti dipaksakan, yang menyambut aku waktu pertama kali aku tiba di sini, beberapa saat sebelum aku tiba-tiba merasa lapar dan memesan nasi goreng terakhirku di bumi. Aku tidak melihat ada pegawai lain. Pemilik hotel ini terlalu kedekut untuk sekadar membayar satu orang lagi.

Lelaki itu mungkin akan bergegas menelefon polis. Dan, setelah menyampaikan seluruh maklumat yang menurutnya perlu, ia meneguk bergelas-gelas air sejuk demi untuk menenangkan diri. Ia kemudiannya akan susah tidur berhari-hari setelah melihat seluruh isi perutku terburai, termasuk nasi goreng yang ia buat untukku dengan tidak rasa sungguh-sungguh. Darahku berpercikkan menutupi lantai bilik. Aku bayangkan ia jatuh, sesudah bersusah payah membuka pintu, kerana tergelincir. Atau, mungkin, ia si pengecut yang takut melihat darah.

Setelah menelefon polis, ia terjumpa cerita yang sedang kau baca sekarang yang elok terletak di depan televisyen yang sengaja aku biar tetap hidup dan bercakap kepada dirinya sendiri. Ia mungkin tidak berani membacanya dan, oleh itu, ia menyerahkannya entah kepada siapa — dan, aku tidak mahu tahu, mengapa boleh ia sampai kepada kamu.

Polis yang menerima telefon mungkin akan mengutuk entah siapa punya kerja sambil meludah-ludah. Dia belum mampu memecahkan teka-teki kematian Sharif yang cerita mengenainya memenuhi halaman akhbar di kota ini, yang kepalanya dijumpai terletak di bawah bangku halte tidak jauh dari balai tempat ia bekerja. Kira-kira seratus lima puluh meter dari kepala pemuda itu, di tempat pembuangan sampah, seperti yang kau baca di surat kabar, seorang pengutip sampah menemui lengan kanan Sharif membusuk dikerumuni lalat. Walaupun surat khabar tidak menceritakan dengan lebih terperinci mengenai pengutip tersebut, sebab wartawan berfikir tidak perlu mempertanyakannya, namun pengutip sampah itu tentu sempat berharap lengan Sharif mampu menggantikan lengannya yang hilang entah di mana — ketika berada dalam kemalangan panjang, kau tahu, manusia kadang-kadang memiliki kemampuan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.

Tidak jauh dari tempat sampah tersebut, seperti tertulis di akhbar, di depan masjid, sepasang kaki Sharif juga ditemui. Aku kesal membaca berita itu, sebab para wartawan tidak berusaha menelusuri kenapa tungkai kaki Haris harus berada di depan masjid, di tempat sampah, di tempat sampah kuning. Padahal, perkara-perkara kecil semacam itu tentu saja memiliki maksudnya, masing-masing. Seseorang membunuh seseorang yang lain selalunya didasari oleh maksud-maksud tertentu. Tetapi, kau tahu, para wartawan dan polis terlalu pemalas untuk mengetahui persoalan sederhana yang semacam itu. Seorang wartawan dengan bangga pernah memberitahu aku bahawa hanya ada dua jenis wartawan di kota ini. “Wartawan yang pemalas dan wartawan yang berhenti jadi wartawan kerana letih bermalas-malasan,” katanya. Kata wartawan di ayat sebelum ini, kau mampu gantikannya dengan polis, tentera, datuk bandar, ahli politik, mahasiswa, atau apa pun yang sesuai bagi kamu.

………………..……………………………………………

Bahagian-bahagian lain tubuh Sharif belum ditemui. Dan, itulah yang membuat pegawai polis yang menerima panggilan telefon pegawai hotel usang tempat aku menulis cerita ini marah. Belum selesai satu kes, muncul kes yang lain! Pegawai polis itu berfikir orang-orang di kota ini telah menindasnya. Ia berfikir orang-orang tidak ingin melihat hidupnya tenang.

Aku menulis cerita ini, di kamar hotel murah ini, untuk memudahkan pekerjaan para polis. Mereka tidak perlu memberitahu siapa pun, kerana semua orang tahu bahawa polis tidak suka bekerja. Wartawan, polis, datuk bandar, ahli politik, pemilik hotel tempat aku bunuh diri, dan semua orang di kota ini pemalas. Dan, kau tahu, untuk itulah orang yang cuma mampu mengeluh seperti aku senang untuk menulis cerita. Untuk itulah aku menulis cerita ini. Agar para wartawan dan polis tetap dengan sikap bermalas-malasan, sekaligus merasa telah melakukan pekerjaan yang membuatnya berhak menerima gaji.

Seperti yang telah kau duga, aku yang membunuh Sharif!

Aku sebenarnya tidak biasa melakukan perkara sebegini. Aku tidak biasa memulakan cerita dengan kemarahan seperti ini. Itulah alasan kenapa aku mesti memesan tiga botol bir. Aku tidak pernah minum bir. Aku lebih suka minum bergelas-gelas kopi pahit daripada harus meneguk cairan syaitan memabukkan beraroma kencing anjing itu. Meneguk minuman beralkohol adalah pekerjaan para pengecut yang terlalu pengecut sehingga berusaha melarikan diri dari kemabukan yang lebih berat bernama kehidupan.

Sebelum ini, sejujurnya, aku tidak tahu bahawa ketika berhadapan dengan kematian, seseorang biasanya tidak mampu mengawal kata-katanya sendiri. Kau tahu, aku bahkan belum menyebutkan hal yang sesungguhnya ingin kukatakan di cerita ini.

………………..……………………………………………

Dua tahun lalu, aku jatuh cinta dan menjadi kekasih kepada seorang perempuan bernama Mala. Ia merantau dari pulau Jawa dan bekerja sebagai pegawai bank swasta di kota ini. Ia kerap membayangkan dirinya menikah dengan lelaki yang gemar membaca buku dan, kau tahu, itulah yang membuat kami bertemu di perpustakaan tempatku bekerja. Petang itu, ia lalu melepasi pintu perpustakaan seperti mimpi indah yang tiba-tiba meruntuhkan semua kebosanan atas hidupku sendiri.

Mala senang membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan tidak menyukai puisi-puisi Goenawan Mohamad. Aku tidak tahu kenapa. Padahal, menurut yang aku tahu, puisi-puisi mereka boleh dikatakan lahir dari rahim yang sama. Mungkin Mala pernah membaca berita di internet mengenai Goenawan Mohamad dan kawan-kawannya.

Ketika kami akhirnya menjadi sepasang kekasih, Mala mengaku baru seminggu meninggalkan kekasihnya. Lelaki yang menjadi kekasihnya selama sembilan bulan itu mempunyai hubungan dengan seorang pegawai bank lain yang memiliki sepasang payudara lebih berisi dan tidak suka membaca buku puisi.

Kemudian, aku pun tidak tahu kenapa Mala tiba-tiba meminta putus setelah kami menjalani hubungan selama tujuh bulan. Mungkin ia bosan melihat aku yang miskin dan tidak tahu berhenti merungut terhadap kemiskinan aku. Atau, mungkin, ia rindukan bekas kekasihnya yang curang itu, yang ternyata anak salah seorang ahli politik di kota ini. Tapi, kau tahu, aku tidak peduli apa pun alasan kenapa ia meninggalkan aku dan aku tidak meminum segelas pun bir ketika ia meninggalkanku. Aku tidak sedih hingga aku menyedari ia tidak pernah lagi datang ke perpustakaan dan memilih lebih rajin pergi ke salon untuk membuat kulitnya lebih putih, kencang dan tegang.

Tiga bulan setelah putus dengan Mala, aku bertemu dengan Dewi. Kami bertemu di kedai buku Gramedia. Bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi kekasihmu di kedai buku adalah peristiwa yang indah. Ia seperti puisi yang tidak perlu dituliskan, seperti adegan di dalam filem-filem lama. Sesungguhnya, aku lebih suka jika kami bertemu di kedai buku kecil, bukan di kedai buku besar — bukan di supermarket. Tetapi, kau tahu, di kota ini, tidak ada kedai buku lain selain Gramedia.

Aku fikir, untuk membuat cerita ini sedikit lebih menarik, aku perlu mengatakan bahawa nama lengkap Dewi adalah Dewi Lestari. Tanpa perlu menggunakan data dari badan statistik negara, aku berani jamin, ada ratusan perempuan bernama Dewi Lestari di negeri ini, meskipun cuma satu Dewi Lestari yang menjadi penulis bestseller. Tetapi, Dewi lebih senang dipanggil Wiwi daripada Dee. Ia kerap marah apabila aku memanggilnya Dee. Ia tidak pernah membaca buku yang ditulis Dewi Lestari. Ada dua alasannya. Pertama, ia tidak suka ada seorang bernama Dewi Lestari yang lebih pandai menulis daripada dirinya. Kedua, ia percaya pendapat seorang pengkritik sastera, ibunya, bahawa karya Dewi Lestari tidak sebagus yang dikatakan oleh orang-orang yang pernah membacanya.

Seperti Mala, kau tahu, Dewi akhirnya pergi dari hidup aku. Kami hanya pernah datang ke kedai buku bersama sebanyak empat kali. Bahkan, kami belum sempat pergi menonton wayang pun. Kami juga tidak pernah sempat berkelahi tentang perlu makan tengahari di warung mana seperti pasangan kekasih lain. Tetapi, walaupun ceritanya singkat, aku perlu menuliskan kisah cinta kami di cerita ini. Maksudku, begini, dari Dewi aku tahu bahawa bekas kekasih Mala adalah Sharif yang kuceritakan sebelumnya. Dan, anak ahli politik itu, juga pernah menjadi kekasih Dewi sewaktu ia masih sekolah menengah.

………………..……………………………………………

Aku tidak mahu lama-lama tinggal di dalam kesedihan kerana ditinggalkan Dewi. Lima hari setelah Dewi pergi, waktu itu aku menghadiri acara reunion sekolah menengah, aku menyampaikan perasaan cintaku kepada Nanti. Dan, kau tahu, Nanti menerimaku dengan satu catatan: aku harus melamarnya. Bahkan ia tidak mahu mempersoalkan keadaan keluargaku yang sungguh-sungguh datang dari kelas yang berbeza jauh di bawah keluarganya. Nanti, kau tahu, sudah lama muak dengan keserakahan ayahnya.

Berbeza dengan Mala dan Dewi, Nanti tidak suka pacaran dan itulah alasan kenapa ia tidak pernah menerima cintaku sejak kami masih sekolah menengah. Aku memang kerap membayangkan diriku menjadi suami Nanti. Dan, tentu saja, aku menerima tentangannya dan ibuku tersenyum mengetahui aku akhirnya ingin menikah setelah bertahun-tahun hari-harinya dirundung kemurungan.

Tetapi, hidup selalu punya tetapi. Dua hari sebelum aku melamar Nanti, Sharif dan ayahnya yang ahli politik itu datang. Dan, kau tahu, ayah Nanti, pemilik hampir semua media di kota ini, menerima lamaran Sharif.

Sekarang, kau tahu kenapa aku membunuh Sharif. Alasannya sungguh bukanlah perkara rumit. Tidak ada hal yang betul-betul rumit untuk manusia yang mahu berfikir. Aku tidak boleh menerima kenyataan bahawa semua perempuan yang kucintai hilang dari hidupku kerana seorang lelaki yang sama. Kira-kira sesederhana.

………………..……………………………………………

Nanti menyembunyikannya. Sementara itu, para wartawan dan polis tidak cukup pintar untuk mengetahuinya. Nanti tidak mengatakan kepada siapa pun bahawa ia pernah berjanji bersedia untuk menjadi isteriku.

Aku menulis cerita ini, dan kemudian merobek perutku sendiri bukan untuk membuat Nanti bersedih. Tidak sama sekali. Aku mampu sangat kejam kepada diri sendiri, tetapi aku tidak mampu melakukan hal begitu kepada Nanti. Lagi pun, seperti yang kau baca di akhbar, Nanti sudah berada di salah satu kamar rumah sakit jiwa sebelum cerita ini aku tulis. Dan, yang paling menyedihkan sekali, kemungkinan setelah sembuh, ia tidak ingat pernah mengenal namaku.

………………..……………………………………………

Jika kau membaca cerita ini, siapa pun kau, beritahu pegawai hotel yang menemui mayatku bahawa aku menyimpan wang untuknya di bawah televisyen yang sedang bercakap kepada dirinya sendiri itu. Aku tahu aku telah menyusahkan hidupnya dan ia boleh pergi berhibur dan meninggalkan tempat terkutuk ini. Dan, kufikir, pemilik hotel sialan ini terlalu bakhil untuk menaikkan gajinya. Ia terlalu sibuk menikmati kebahagiaannya menindas orang lain dengan membiarkan pegawainya kehilangan senyuman dan masa muda percuma.

Aku tidak bunuh diri. Kepalaku penuh kekacauan, pecahan-pecahan fikiran buruk, dan aku tidak pernah berjaya memperbaikinya — tidak lagi. Tetapi, tolong, pisau itu, kembalikan ke rumahku. Penderitaan ibuku sudah cukup dengan kehilangan suaminya dan satu-satunya anak yang tidak berguna. Aku tidak ingin ia kehilangan pisau juga. Sejak ayahku mati dibunuh polis dua tahun lalu kerana melawan pengadilan dan pemilik hotel yang merampas tanah kami, ibuku mengasah pisau dapur itu setiap malam sebelum ia tidur. Ibuku, kau tahu, masih membutuhkan pisau itu!

………………..……………………………………………

*Cerita ini adalah sebagian daripada sebuah kisah yang direncanakan lebih panjang.

__________________________________________________________________________________________________________

Cerita saya kutip dari laman Medium M Aan Mansyur dan saya olah ke versi Bahasa Malaysia yang mudah dibaca oleh anda. Jika anda ingin membaca di dalam versi Bahasa Indonesia, anda boleh ke SINI.

Ketakutan Global

Orang-orang yang bekerja takut kehilangan pekerjaan. Mereka yang tiada pekerjaan takut tidak akan mendapat pekerjaan. Siapa pun yang tidak takut kelaparan takut makan. Mereka yang berkenderaan takut untuk berjalan kaki dan para pejalan kaki takut dilanggar kenderaan. Demokrasi takut untuk mengingat dan bahasa takut untuk berbicara. Orang awam takut tentera, tentera takut kekurangan senjata, senjata takut kekurangan perang. Ini adalah zaman takut. Perempuan takut kekerasan lelaki dan lelaki takut kepada perempuan yang tidak takut. Takut pencuri, takut polis. Takut pintu tanpa kunci, waktu tanpa jam tangan, anak-anak tanpa televisyen, takut malam hari tanpa pil tidur dan siang hari tanpa pil untuk tetap terjaga. Takut orang banyak, takut sendiri, takut apa yang telah dan akan terjadi, takut mati, takut hidup.

(Diterjemahkan dari buku Eduardo Galeano, Upside Down). Artikel ini saya kutip dari laman Medium M Aan Mansyur. Anda boleh baca versi bahasa Indonesia DI SINI

Ibuku Sayang Yang Malang

Pada akhir 1960-an, penyair Jorge Enrique Adoum kembali ke Ecuador setelah lama menghilang. Apabila tiba di Ecuador, ia melakukan satu perkara wajib di kota Quito: ia pergi ke stadium untuk menyaksikan Sociedad Deportiva Aucas beraksi. Itu adalah perlawanan penting dan tempat duduk disesaki penonton.

Sebelum kickoff ada satu minit keheningan untuk menghormati ibu si pengadil, yang meninggal dunia pagi itu. Semua orang berdiri, semua orang terdiam. Kemudian seseorang berpidato memuji dedikasi si lelaki yang akan mengadili perlawanan, yang melakukan tugasnya meskipun berada dalam suasana berduka.

Di tengah padang, kepala lelaki berbaju hitam itu tertunduk, ia menerima tepuk tangan para penonton yang seolah tidak akan pernah berakhir. Adoum berasa sedikit bingung, ia mencubit dirinya sendiri: ia seperti tidak percaya. Di negara mana ia sedang berada? Betapa banyak hal yang telah berubah. Sebelumnya, orang-orang di sini hanya memerhatikan pengadil untuk mengumpatnya sebagai anak sundal.

Pertandingan dimulai. Pada minit kelima belas Aucas menerjah gawang lawan dan stadium meledak. Tetapi gol itu dinafikan oleh si pengadil disebabkan pemain Aucas offside, dan fikiran para penonton serta-merta berpaling ke mendiang ibu si pengadil. “Anak sundal sialan!” teriak mereka dari tempat duduk.

Sepatu

Cerita pendek Etgar Keret

Pada hari peringatan tragedi Holokaus, ibu guru Sara membawa kami mengunjungi muzium Volhynia Jewry dengan bas nombor 57, dan aku merasa sangat terhormat. Semua keluarga murid di kelas kami, kecuali aku, sepukuku, dan seorang anak bernama Druckman, berasal dari Iraq. Cuma aku yang datuknya mati pada peristiwa Holokaus.

Muzium Volhynia sangat cantik dan mewah, terbuat dari marmar hitam, seperti rumah orang kaya. Dindingnya penuh foto hitam-putih yang sedih, juga daftar nama orang-orang mati dan negara mereka.

Kami berpasang-pasangan berkeliling melihat foto-foto itu. Ibu guru bilang, “Jangan sentuh!” Tapi, aku sudah menyentuh foto lelaki tua kurus dan pucat sedang menangis yang ditempelkan di kadbod. Di tangannya ada sepotong sandwich. Air mata mengalir di pipinya, mirip garis-garis pemisah yang boleh dilihat di jalan raya. Pasanganku, Orit Salem, memberi amaran akan memberitahu guru yang aku menyentuh foto. Aku tidak peduli sama sekali. Dia boleh memberitahu siapa pun, termasuk guru besar sekolah, jika dia mahu. Itu foto datukkku dan aku boleh menyentuh apa pun yang mahu aku sentuh.

Usai melihat-lihat foto, mereka membawa kami ke ruangan besar dan memutar satu filem tentang anak-anak yang disesakkan ke dalam trak lalu dibunuh dengan gas. Kami menonton dan, setelahnya, seorang lelaki tua naik ke panggung berbicara tentang kekejaman tentera Nazi. Dia juga menceritakan bagaimana dia melakukan balas dendam. Dia, dengan tangannya sendiri, katanya, mencekik leher seorang tentera Nazi hingga mati. Djerby, yang duduk di sebelahku, memberitahu yang lelaki tua itu berbohong; dari penampakannya, tidak mungkin dia mampu membunuh tentera. Tapi, aku menatap matanya dan aku percaya kepada lelaki tua itu. Di matanya ada kemarahan yang sangat besar, jika dibandingkan dengan kemarahan anak-anak nakal yang pernah kulihat tidak ada apa-apanya.

Terakhir, ketika selesai bercerita tentang hal-hal yang pernah dia lakukan pada masa Holokaus, lelaki itu memberitahu bahawa apa yang baru kami dengarkan masih penting hingga sekarang, bukan cuma dulu, sebab orang-orang Jerman masih ada dan mereka memiliki negara. Dia juga memberitahu bahawa dia tidak mahu memaafkan mereka. Dia juga berharap agar kami tidak akan pernah mengunjungi negara itu. Waktu dia pergi ke Jerman bersama orang tuanya lima puluh tahun lalu, segalanya kelihatan indah, tapi kemudian berubah menjadi seperti neraka.

Ingatan manusia singkat, katanya, khususnya jika ia berkaitan dengan hal-hal buruk. Katanya lagi, manusia cenderung melupakan, tapi kamu tidak akan lupa. Setiap kali melihat orang Jerman, kamu akan ingat apa yang kukatakan. Setiap melihat barang buatan Jerman, baik di televisyen atau di mana saja, kamu harus selalu ingat bahawa di sebalik pembungkusnya yang menarik ada benda yang terbuat dari tulang dan kulit dan daging orang-orang Yahudi.

Ketika keluar dari ruangan, Djerby mengatakan lagi bahawa dia berani bertaruh bahawa lelaki tua itu tidak pernah mencekik leher siapa pun seumur hidupnya, tapi aku tidak peduli. Aku sibuk dengan fikiranku sendiri, betapa beruntung keluargaku kerana punya peti sejuk buatan Israel. Kenapa harus cari masalah?

Dua minggu kemudian, ayah dan ibuku pulang dari perjalanan mereka dari luar negeri. Mereka membawa sepatu untukku. Kakakku rupa-rupanya dalam diam pernah memberitahu kepada ibuku bahawa aku ingin memiliki sepasang sepatu terbaik di dunia.

Ibuku tersenyum ketika menyerahkannya kepadaku. Dia yakin aku tidak tahu apa isinya. Tapi aku melihat logo Adidas di beg pembungkusnya. Aku mengeluarkan kotak sepatu itu dan mengucapkan terima kasih. Kotak itu berbentuk segi empat, seperti peti mati. Di dalamnya ada sepasang sepatu putih dengan tiga garis biru dan tulisan ADIDAS di sampingnya; aku tidak perlu membuka kotaknya untuk tahu bagaimana wujud sepatu itu.

“Ayuh, cuba kamu pakai,” kata ibuku sambil membuka kotaknya, “apakah ia sesuai di kakimu atau tidak.” Dia terus tersenyum. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Ibu tahu, sepatu ini buatan Jerman,” kataku sambil memegang erat tangannya.

“Tentu saja, ibu tahu, sayang.” Dia tersenyum. “Adidas adalah rekaan terbaik di dunia,” katanya.

“Datuk juga dari Jerman,” kataku berusaha memberinya petunjuk.

“Datuk dari Poland.” Ibu membetulkan kata-kataku. Sejenak wajahnya kelihatan sedih, tapi kemudian kembali tersenyum. Dia memakaikan sebelah sepatu itu di kakiku dan mulai mengikat talinya. Aku diam. Aku sedar tidak ada yang mampu aku lakukan. Ibuku belum pernah ke muzium Volhynia. Tidak ada orang yang pernah mengatakan hal tersebut kepadanya. Bagi ibuku, sepatu adalah sepatu dan Jerman adalah Poland. Aku membiarkan dia memakaikan sepatu di kakiku dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak ada gunanya memberitahu dia dan membuatkannya semakin sedih.

Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi dan mengucup pipinya, lalu memberitahu aku mahu pergi main bola.

“Hati-hati ya,” teriak ayahku dari ruang tamu sambil tertawa. “Jangan menggesek-gesekkan alas sepatumu terus.”

Aku melihat sekali lagi sepatu putih yang membungkus kakiku. Aku menatapnya sambil mengingat semua hal yang lelaki tua itu ceritakan yang harus kami ingat. Aku menyentuh logo Adidas berwarna biru dan mengingat gambar datuk di kadbod.

“Adakah sepatu itu selesa di kaki kamu?” tanya ibu.

“Tentu saja ia selesa ibu,” kata kakak mewakiliku. “Itu bukan sepatu murah buatan Israel. Sepatu itu sama dengan yang dipakai Cruiff.”

Aku melangkah perlahan keluar pintu. Aku berjinjit berusaha menumpukan sesedikit mungkin berat tubuhku ke sepatu. Aku berjalan ke Taman Monyet. Di luar, anak-anak tetangga dari Borochov telah membentuk tiga pasukan.. Belanda, Argentina, dan Brazil. Kebetulan pasukan Belanda kekurangan satu pemain. Mereka setuju mengajakku bergabung, meskipun sebelumnya tidak pernah mahu menerima orang dari luar Borochov.

Pada waktu permainan baru bermula, aku terus ingat untuk tidak menendang dengan bahagian hujungnya agar tidak menyakiti datuk. Tapi setelah beberapa saat, aku lupa, sama seperti yang dikatakan oleh lelaki tua di muzium Volhynian bahawa manusia cenderung melupakan. Lebih hebat lagi, aku berhasil membuat pasukanku menang.

Tapi, ketika permainan selesai, aku ingat kembali dan melihat sepatuku. Tiba-tiba sepatu itu nampaknya kelihatan lebih bagus dan selesa di kakiku jika dibandingkan ketika masih berada di kotak.

“Hebat kan? Menghasilkan beberapa gol.” Aku berbicara kepada datuk waktu berjalan pulang ke rumah.

“Penjaga gawang itu tidak tahu pun apa yang telah terjadi.” Datuk tidak mengatakan apapun, namun dari langkah-langkahnya aku boleh cakap dia juga pasti senang.

*

(Diterjemahkan oleh M Aan Mansyur (penulis puisi Tidak Ada New York Hari Ini) dari versi bahasa Inggeris. Versi aslinya ditulis di dalam bahasa Hebrew dan dialihbahasakan oleh Marganit Weinberger-Rotman dengan judul ‘Shoes’. Cerita pendek ini ada di buku kumpulan cerita Etgar Keret, ‘The Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories’. Jika anda ingin membaca versi bahasa Inggerisnya, salah satunya anda boleh baca di sini.)

Sumber : https://medium.com/@hurufkecil

Hidupku Di Perut Binatang Buas

— berikut adalah cerita pendek oleh Lincoln Michel yang telah diterjemahkan oleh saudara M Aan Mansyur.


Aku dilahirkan tak cukup bulan, dengan kata lain – premature. Oleh yang demikian, aku menjadi bayi yang sangat kecil. Ya, sangat kecil, sehinggakan selang tak berapa lama selepas dilahirkan ke dunia, aku telah ditelan oleh seekor rubah licik, yang mana pada waktu itu – sebenarnya selalu, mengganggu kebun orang tuaku. Masih aku ingat, ia menyelinap masuk melalui pintu belakang, yang pada waktu itu, semua orang sedang sibuk menguruskan hal lain. Airmata bahagia ibuku lantas berubah menjadi kecut, dan ayahku pula tak habis-habis mengutuk buruh tani pemalas yang ia telah bayar untuk memperbaiki pagar. Itulah kata-kata pertama dan terakhir yang aku dengar, diucapkan oleh orang tuaku.

Perut rubah itu rasanya nyaman dan hangat. Rasa nyaman dan hangat itu hampir membuat aku tak sedar apa yang terjadi. Bagi aku, keadaan seperti seolah-olah aku cuma berpindah randah dari satu rahim ke rahim yang lain. Bila lapar, aku akan makan potongan-potongan daging mentah yang jatuh bertaburan di sekitarku. Jika aku sedih dan meratap, si rubah akan melolongkan lagu, mendodoikan tidurku supaya aku kembali terlelap. Terlepas dari semua hal itu, hari-hari pertamaku biasa saja.

Aku, seiring dengan bergeraknya waktu, mula membesar menjadi anak penakut. Aku bukan bayi lagi, dan kadang-kadang sudah mampu meregangkan tungkai kaki. Suatu hari, seakan doaku termakbul, rubah itu terperangkap oleh jerat pemburu dan anjing Mastiff raksasanya. Ia cuba untuk lari, tapi aku sudah cukup besar untuk membuatnya t tak mampu bergerak lincah, lalu tubuhnya dikoyak-koyak anjing. Aku lantas merasakan hembusan udara dingin dan melihat cahaya matahari yang terang untuk pertama kali sebelum ditelan seekor anjing yang sangat besar itu.

Aku tidak menyangkal bahawa aku sedih kerana harus tinggal di antara potongan-potongan tubuh dan gumpalan bulu rubah. Betul, rubah yang telah menculikku, tapi bagiku juga kemudian jadi rumah, dan kehilangan tentu bukanlah perkara remeh.

Tapi perut Mastiff lebih nyaman dan lapang, lebih sesuai untuk bocah laki-laki yang sedang tumbuh. Aku mampu merasakan otot-ototku berkembang ketika push-up di lantai perutnya yang lembut dan pull-up di batang-batang tulangnya. Apabila ia sedang tertambat di padang rumput, aku sering merangkak naik ke tenggorokannya, bertopang dagu di pangkal lidahnya yang lebar, dan menatap keluar ke dunia yang kering, dunia yang terbuka.

Aku, percaya atau tidak, bahkan jatuh cinta kerana kebiasaan itu. Ada seorang gadis baik hati tinggal di sebelah rumah pemburu hendak memberi makan anjing itu dengan sisa-sisa makanan lazat melalui celah-celah pagar. Dia mengenakan gaun musim panas berwarna pastel dan ada dandelion terselip di rambutnya. Aku terpukau melihat betapa ringan dan cantik dia diterpa oleh sinar matahari.

“Apa yang kau lakukan di situ?” kata gadis itu ketika melihat aku mengintip dari mulut anjing.

“Aku tinggal di sini,” kataku malu-malu.

“Oh, ok, mari keluar!” Dia tertawa, tapi aku takut dan meluncur masuk kembali di usus anjing. Aku fikir anak yang telah menjalani hidup di perut binatang tidak cukup berhak jadi teman gadis itu.

Aku melolong dan mengasihani diri sendiri, dan dia mengusap perut anjing, dan terus mengatakan, “Hei, hei.”

Kesepian yang tidak hendak berhenti, akhirnya, membuatku memutuskan untuk meninggalkan perut Mastiff. Dan, aku melakukannya. Dengan segenap tenaga, aku berusaha melewati gigi-gigi runcing anjing itu. Di luar tampak gelap. Badanku sakit, dan aku ingin beristirahat. Ketika duduk di tempat yang lembut dan licin, dalam sekejap aku sudah berada di dalam perut lain. Seekor beruang melahap Mastiff saat aku lengah. Aku tidak bisa percaya nasib burukku!

Apabila aku berusaha melarikan diri dari beruang, ia marah dan memanjat pohon yang tinggi. Aku sudah remaja ketika itu, dan kehidupan tidak ubahnya perangkap memuakkan. Segala sesuatu yang tampak manis mengandung duri tersembunyi. Jika ada madu segar di tanganku, setelahnya selalu ada sengatan menyakitkan dari lebah yang turut kutelan.

Tapi kehidupan terus bergerak, dan seseorang tumbuh menyesuaikan diri. Tahun-tahun berlalu. Beruang itu dibius dan diangkut dengan perahu menuju kebun binatang yang asing. Perahu terperangkap badai hebat, beruang dan aku terlempar ke laut, hanya untuk ditelan ikan hiu kemudian, tanpa sengaja, ditelan ikan paus raksasa.

Aku berada di perut paling besar yang pernah kutinggali. Tak ada apa pun yang mampu menghalangiku lagi. Aku sudah jadi pria dewasa, dan aku harus menjalani hidupku sendiri. Aku mulai bekerja, membangun tempat penampungan makanan dari sisa kayu apung dan rangka-rangka ikan yang kutemukan di danau kecil dalam tubuh paus. Kadang-kadang aku memikirkan gadis kecil bergaun musim panas itu dan merasakan kesedihan bergolak di perutku. Aku tinggal sangat lama dalam tubuh paus. Kulitku ditumbuhi bintik-bintik, dan rambutku panjang menjuntai lembut hingga ke lantai. Tahun-tahun hidupku satu demi satu habis ditelan binatang buas waktu.

Lalu, pada suatu hari, aku menyedari bahawa ikan paus itu tak lagi bergerak. Aku tak pernah merasakan keadaan tenang selama bertahun-tahun. Aku takut dan duduk di tengah kepungan air masin yang dingin. Aku menempelkan telingaku ke tulang rusuk paus dan mendengar teriakan dan suara-suara di luar daging penghalang. Kemudian cakar-cakar logam merobek dinding duniaku hingga terbuka, dan aku terjatuh ke dek kayu.

Mataku butuh waktu beberapa saat untuk mampi menyesuaikan diri dengan cahaya. Kulit tuaku penuh bercak darah dan lemak yang lengket.

Di antara para pelaut yang berewok, aku melihat seorang wanita menatapku dan tersenyum. Kulitnya berkerut bersama usia, rambutnya panjang dan putih. Ia mengenakan gaun hijau dan mengulurkan tangannya.

“Bagaimana kau mampu menemukanku?” Aku akhirnya berhasil mengatakan sesuatu.

“Aku terus mencarimu sepanjang hidupku,” katanya. Ia membongkok dan mencium alisku dengan lembut.

Ia membantuku turun dari kapal dan memberiku semangkuk sup panas. Para pelaut melambaikan tangan kepada kami di pelabuhan berikutnya. Kami menikah dan membeli satu apartmen kecil di kota, jauh dari hutan dan binatang buas. Di dalamnya, kami menyelimuti satu sama lain dengan pelukan dan membisikkan kata-kata yang telah kami simpan sejak lama. Tidak cukup banyak waktu tersisa bagi kami, maka kami bertekad menjalani hidup dengan bahagia. Kami minum anggur terbaik dan mengisi perut dengan makanan yang banyak mengandung hati, juga buah-buah matang.

Waktu berlalu, dan hari-hariku semakin tenang.

Namun, di antara seluruh kebahagiaanku, hidup di luar perut ternyata tidaklah mudah. Sering kali, pada malam hari, aku terbangun dan keringat, tubuhku terbalut kain ketat di tempat tidur kecil kami di apartmen dingin di kota yang dikelilingi laut yang hangat. Aku merasa kecil dan sendiri di ruangan yang gelap. Aku boleh merasakan nafas isteriku di leherku, namun rasanya seperti nafas binatang buas yang sangat besar dan tidak tertaklukkan, binatang buas yang sedang menunggu hari untuk menelanku ke dalam kegelapan perutnya. Selamanya.

*

(diterjemahkan dari cerita asli berjudul My Life in the Bellies of Beasts)

Sumber : Medium.com/@hurufkecil

Petualangan Sepasang Suami-Isteri

Arturo Massolari merupakan seorang buruh fabrik, mendapat giliran bekerja pada malam hari hingga pukul enam pagi. Untuk sampai di rumah, ia mesti menempuh perjalanan jauh, dengan berbasikal ketika cuaca baik, atau trem apabila musim dingin atau hujan. Ia tiba di rumah antara pukul enam empat puluh lima pagi dan pukul tujuh; dengan kata lain, kadangkala sebelum atau sesudah bunyi jam loceng membangunkan Elide, isterinya.
Kedua bunyi itu, suara penggera dan langkah kaki Arturo ketika memasuki rumah, seringkali menyatu di fikiran Elide, menggapainya jauh hingga di kedalaman tidurnya, tidur lelap awal pagi yang berusaha ia lanjutkan beberapa detik lagi, dan membenamkan wajahnya ke bantal. Ia lalu menarik tubuhnya dari tempat tidur dengan satu sentakan dan, tanpa melihat, kerana rambut menutupi matanya, secara automatik ia memasukkan tangan ke pakaian tidurnya.
Arturo, di dapur, tempatnya mengambil bekas kosong dari beg yang ia bawa ke tempat kerja, kotak makan siang dan termos, melihat Elide dalam keadaan seperti itu. Ia meletakkan barang-barang tersebut di sinki. Ia menyalakan dapur dan menhangatkan kopi. Ketika menyedari tatapan suaminya, Elide secara spontan menyelakkan rambut dengan satu tangan, memaksa matanya terbeliak, seolah-olah ia malu terhadap pandangan pertama suaminya ketika pulang, ia selalu kelihatan tak keruan, dan wajahnya masih separuh terlelap. Lain perkara apabila dua orang tidur bersama. Keduanya, pada pagi hari, bangun dari tidur yang sama dan mereka setara.
Namun, di lain waktu, kadang pula Arturo yang masuk ke kamar tidur membangunkan isterinya, dengan secangkir kecil kopi, sesaat sebelum jam penggera berbunyi; maka segala sesuatu terasa lebih alami, roman wajah baru bangunnya menciptakan semacam kemalasan yang manis, sepasang lengan terangkat untuk diregangkan, telanjang, berakhir dengan tepukan lembut di leher. Mereka berpelukan.
Arturo mengenakan jaket pelindung tahan air; ketika merasakan suaminya mendekat, Elide mampu mengetahui cuaca hari ini, apakah hujan atau berkabus atau salju turun berdasarkan seberapa basah dan dingin suaminya. Walaupun begitu, ia tetap akan bertanya: “Bagaimana cuaca hari ini?”, dan Arturo mulai menggerutu seperti biasa, agak ironis, membahas semua masalah yang telah ia hadapi, dimulai dari akhir: perjalanannya dengan berbasikal, cuaca yang menyambutnya waktu keluar dari fabrik, yang berbeza dengan hari sebelumnya ketika ia masuk, dan sejumlah masalah dengan pekerjaannya, khabar angin yang beredar di bahagian tempatnya bekerja, dan sebagainya.

Pada minit-minit seperti itu, rumah mereka kurang hangat, namun Elide telah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan membasuh tubuhnya di kamar mandi kecil mereka. Beberapa saat kemudian, Arturo masuk, lebih tenang, melepaskan pakaian dan mencuci dirinya, perlahan-lahan, membersihkan debu dan minyak dari tubuhnya dengan sabun. Dan, disebabkan keduanya berdiri di bathtub kecil yang sama, setengah telanjang, sedikit beku, bergesekan, mengambil sabun satu sama lain, ubat gigi, dan terus saling menceritakan hal-hal yang mereka rasa perlu, keintiman datang, dan biasanya, mungkin ketika mereka bergantian menggosok punggung, satu-dua belaian menelusup, dan keduanya menemukan diri mereka saling merangkul.
Tetapi, Elide tiba-tiba menjerit: “Ya, Tuhan! Sudah pukul berapa sekarang!” dan ia akan lari, mengenakan ikat pinggang, skirt, semuanya dengan terburu-buru, sebentar berdiri, sebentar menyisir rambutnya, dan mendekatkan wajahnya ke cermin di almari, sepit rambut terselip di antara bibirnya. Arturo akan datang menyusul; ia mengambil rokok, dan memerhatikan tingkah isterinya, berdiri, merokok, dan ia tampak agak malu, harus tinggal di sana tanpa mampu melakukan apa-apa. Elide telah siap, ia mamasang kotnya di koridor, mereka bertukar ciuman, ia membuka pintu, dan kemudian terdengar berjalan menuruni tangga.
Arturo masih berdiri di tempat yang sama. Ia mengikuti suara tapak-tapak Elide di anak-anak tangga, dan ketika ia tidak mampu mendengarnya lagi ia masih mengikutinya dalam fikiran, Elide berlari kecil melewati halaman, keluar dari pintu gedung, menyusuri kaki lima, dan tiba di perhentian trem. Suara trem, sebaliknya, boleh terdengar dengan jelas: berderit-derit, berhenti, suara-suara langkah para penumpang. Ia sudah mendapatkan trem, fikir Arturo, dan ia mampu melihat isterinya tersepit di tengah kerumunan pekerja, lelaki dan wanita, di dalam trem nombor sebelas yang membawanya ke fabrik seperti yang terjadi setiap hari. Ia mematikan rokok, menarik tirai jendela, menggelapkan ruangan, dan naik ke tempat tidur.
Kondisi tempat tidur masih seperti ketika Elide bangun, namun di bahagian Arturo kelihatan tidak kacau sama sekali, seolah-olah baru saja dirapikan. Ia berbaring di setengah bahagiannya sendiri, sebagaimana mestinya, tetapi ia kemudian menjulurkan sebelah kakinya ke sisi lain, di mana kehangatan tubuh isterinya masih tertinggal, maka ia menjulurkan kaki yang lainnya pula. Begitulah, sedikit demi sedikit ia memindahkan tubuhnya ke sisi bahagian Elide, masuk ke ceruk hangat yang masih menyisakan bentuk tubuh istrinya, lalu ia membenamkan wajahnya ke bantal, menghidu aroma tubuh isterinya, dan tertidur.
Ketika Elide pulang, pada petang hari, Arturo sibuk mundar-mandir selama beberapa saat: ia menyalakan dapur, meletakkan sesuatu di atasnya untuk dimasak. Ada pekerjaan tertentu yang mesti ia lakukan pada jam-jam sebelum makan malam, seperti menetapkan tempat tidur, sedikit menyapu, dan merendam pakaian kotor.
Elide menganggap salah segala sesuatu, tetapi, sejujurnya, itu tidak pernah membuat Arturo kemudian melakukan apa pun lebih baik: apa yang ia lakukan hanya semacam ritual menanti isterinya pulang, ketika Elide berada di jalan menuju rumah sementara ia belum berangkat, ketika lampu-lampu di luar mulai dinyalakan dan isterinya melalui kedai-kedai di tengah hiruk-pikuk yang terlambat selesai, di mana para perempuan tetangga mereka sering berbelanja saat hari menjelang malam seperti itu.
Ia, akhirnya, mendengar langkah-langkah kaki di tangga, amat berbeza dari suara yang ia dengar pada pagi hari, kali ini lebih berat, karena Elide berjalan menaiki tangga, lelah kerana seharian bekerja, dan membawa sekantung barang belanjaan.
Arturo keluar menyambutnya, mengambil alih kantungan dari tangan isterinya, dan mereka masuk sambil bercakap-cakap. Elide duduk di kerusi, di dapur, tanpa melepas kot, sementara Arturo mengeluarkan satu per satu barang dari kantung. Kemudian, Elide akan berkata: “Mari kita kendalikan diri masing-masing,” dan ia akan berdiri, menanggalkan kot dan mengenakan kembali pakaian rumah. Mereka akan mulai menyiapkan makanan: untuk jamuan makan malam mereka berdua, ditambah makanan untuk “santap siang” waktu Arturo istirahat pada pukul 01:00 pagi di fabrik, juga makanan ringan untuk Elide sendiri waktu bangun esok pagi.
Ia bersantai sejenak, kemudian duduk di kerusi rotan dan mengatakan kepada Arturo apa saja yang harus ia lakukan. Bagi Arturo, sebaliknya, inilah waktu baginya beristirahat, ia bekerja dengan penuh semangat, ia tentu saja ingin melakukan segalanya, namun selalu sedikit bingung, kerana fikirannya sudah berada di tempat lain. Pada saat-saat seperti itu, urat saraf mereka kadang tiba-tiba tegang, saling melontarkan hal-hal menjengkelkan, karena Elide ingin suaminya lebih memerhatikan apa yang ia lakukan, mengerjakannya lebih serius, memusatkan perhatian kepadanya, agar mereka mampu menjadi lebih dekat, dan menghibur hatinya. Tetapi, selepas antusiasme awal, ketika isterinya pulang, fikiran Arturo sudah ada di luar rumah, terobsesi oleh gagasan bahawa ia harus bergegas, kerana ia harus segera harus berangkat.
Pada saat meja kelar ditata, ketika segala sesuatu telah tersaji dan berada di tempat semestinya, sehingga mereka tidak perlu lagi berdiri setelah itu, tibalah waktu ketika kerinduan meliputi mereka berdua, fikiran bahawa mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk dihabiskan bersama-sama, dan mereka hampir tidak sanggup mengangkat senduk ke mulut masing-masing. Dalam kepungan rasa rindu itu, mereka hanya duduk diam dan bergenggaman tangan.
Tetapi, bahkan sebelum kopi sempat dipindahkan ke teko, Arturo sudah mendekati basikalnya, untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Mereka berpelukan. Arturo, tampaknya, kemudian menyedari betapa lembut dan hangat isterinya. Tetapi, ia sudah meletakkan basikal di bahunya dan, dengan hati-hati, mulai menuruni tangga.

Elide mencuci piring, memeriksa keadaan seluruh penjuru rumah, mengulangi pekerjaan yang telah dilakukan suaminya, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sementara itu, Arturo melaju di jalan-jalan gelap, di antara pendaran cahaya lampu-lampu yang redup, mungkin ia sudah melewati kedai-kedai meter gas. Elide beranjak ke tempat tidur, memadamkan lampu. Dari sisi bagiannya, sementara berbaring, ia memindahkan satu kakinya ke tempat Arturo, mencari kehangatan. Tetapi, setiap kali ia menyedari bahawa sisi tempat tidurnya terasa lebih hangat, tanda bahwa suaminya juga telah tidur di situ, ia serta-merta merasakan limpahan kelembutan.

Diterjemahkan dari cerita pendek berjudul The Adventure of the Married Couple. Cerita pendek ini ada di buku Italo Calvino, Difficult Loves: Smog — A Plunge into Real Estate (Vintage Classics, 1993) — dan pernah diadaptasi menjadi film pendek oleh sutradara Iran, Keywan Karimi, Zan va Shohar Karegar/The Adventure of the Married Couple. Cerita pendek yang sama menginspirasi sineas India, Aditya Vikram Sengupta, membuat film Asha Jaoar Majhe/Labour of Love. Dan, seorang designer terinspirasi oleh cerpen tersebut untuk menciptakan ini. Penerbit Jalasutra pernah menerbitkan terjemahan buku Italo Calvino, Kecamuk Cinta, di mana cerpen itu ada di dalamnya.

Sumber : Medium.com/@hurufkecil