Ibuku Sayang Yang Malang

June 13, 2017 Hairul 0 Comments

Pada akhir 1960-an, penyair Jorge Enrique Adoum kembali ke Ekuador setelah lama menghilang. Begitu tiba, ia melakukan satu ritual wajib di kota Quito: ia pergi ke stadion untuk menyaksikan Sociedad Deportiva Aucas bertanding. Itu adalah pertandingan penting dan tribun disesaki penonton.

Sebelum kickoff ada satu menit keheningan untuk menghormati ibu sang wasit, yang meninggal dunia pagi itu. Semua orang berdiri, semua orang terdiam. Kemudian seseorang berpidato memuji dedikasi pria teladan yang akan memimpin pertandingan, yang melakukan tugasnya meskipun berada dalam suasana berduka. Di tengah lapangan, kepala pria berbaju hitam itu tertunduk, ia menerima tepuk tangan para penonton yang seolah tidak akan pernah berakhir. Adoum pangling, ia mencubit dirinya sendiri: ia tidak bisa percaya. Di negara mana gerangan ia sedang berada? Betapa banyak hal yang telah berubah. Sebelumnya, orang-orang semata memerhatikan wasit untuk mengumpatnya sebagai anak sundal.

Pertandingan dimulai. Pada menit kelima belas Aucas membobol gawang lawan dan stadion meledak. Tetapi gol itu dianulir wasit karena pemain Aucas offside, dan pikiran para penonton serta-merta berpaling ke mendiang ibu sang wasit. “Anak sundal sialan!” teriak mereka dari tribun.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *