Pembelaan Untuk Orang-Orang Kalah

Aku ketakutan, resah, dan merasa kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Tapi sepertinya tidak apa-apa, tidak perlu murung dan merasa kiamat sudah dekat, biasa saja. Sebab bukankah memang ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya. Dengan tabah. Kalau boleh dengan riang gembira, tentu lebih baik lagi.

Ketika aku menemui orang-orang yang berderet, berbaris, berkumpul, membentuk kerumunan-kerumunan, aku selalu beranggapan ada yang mereka sepakati dan mereka tunggu bersama. Sebagai sebuah tujuan kolektif. Mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu, sebab segalanya dalam hidup ini memang memerlukan persiapan. Hidup kadang tak mahu berpihak pada mereka yang malas mempersiapkan. Selalu, setiap harinya aku menyaksikan kerumunan orang-orang yang bersiap dan bergegas adalah mereka yang menjadi pemenang, atau paling tidak sedang berada di jalur menuju kemenangan.

Orang-orang bergegas, berpakaian rapi, berparas rupa menarik, mencukur kumis, memotong rambut, wangi tubuhnya menyebar ke seluruh sudut. Mereka membaca buku, menghadiri diskusi atau bedah buku, berdebat, musyawarah-mufakat, menekuni kuliah dan tak lupa juga untuk bercinta.

Mereka menamatkan beberapa gelaran akademik, membuka bercabang-cabang perniagaan, pergi ke bank, gimnasium, perpustakaan, mereka pergi juga ke taman kota, pusat hiburan, pusat perbelanjaan. Orang-orang membangun nama, membentuk sindiket, memperluas jejaring pertemanan; membuka sejumlah kemungkinan-kemungkinan, menjaga citra, menyusun pundi-pundi ketenaran, dan aku merasa semakin terasing. Aku semakin terancam, rapuh, renta, membusuk, dan punah. Bahkan sebelum semuanya dimulai.

Semua itu semakin membuatku terbebani dengan ancaman bahawa hidup kelak akan berlangsung lebih keras, lebih membosankan, lebih memuakkan, dan tentu saja lebih melelahkan. Aku semakin tegang, panik, terasing, dan cenderung menjadi malas, semenjak dari cara mempersiapkan hidup.

Tentu selalu ada saja barisan orang yang enggan seperti aku. Orang-orang yang suntuk dan muram. Mereka masih saja duduk-duduk malas di warung kopi, masih saja ada yang bersembunyi dari rombongan yang bergegas di balik tingkap bilik yang buram. Mereka berkata, kami adalah orang-orang yang kalah.

Kota sudah mulai bersiap kembali memulai hari yang baru. Kebisingan yang baru, demonstrasi yang baru, dan segala kriminalitasi yang sudah siap menguntit siapapun yang lengah. Embun tidak ada di kota ini, bahkan mungkin cucuku nanti hanya akan mendengar embun dalam cerita-cerita romantik. Seperti aku yang hanya mampu mendengar ladang subur, ternak makmur, hutan yang kudus, dan masyarakat yang sejahtera dengan segala budaya luhurnya di epik-epik purba. Yang tertinggal hanyalah patung, lukisan, sajak, cerita, dan lagu-lagu. Tapi karya seni macam apa yang mampu untuk ditinggalkan di kota yang terlalu sibuk seperti ini? Warisan apa yang akan kita berikan pada generasi setelah kita?

Pagi, bagi kami hanyalah sebentuk persiapan-persiapan singkat menuju kerja. Selalu, sarapan yang singkat, sedikit membaca headline suratkhabar, sececap kopi dan rokok yang tidak pernah habis, juga sedikit kucupan isteri atau sedikit sapaan sayang dari kekasih. Sedikit, sedikit saja. Sebab efektivitais dan efisiensi sudah terlalu sering didengungkan di telinga kami. Sebab sedikit saja kami lambat, di akhir bulan isteri sudah merengek meminta telivisyen baru yang tidak terbeli; mimipi-mimpi yang tidak tercukupi. Sementara para jaguh korporat dengan strategi pemasarannya semakin membuat kami terduduk. Terlalu banyak yang tidak mampu kami beli, terlalu banyak mimpi yang seolah kami perlukan.

Hidup hanyalah sebentuk ruang tunggu. Manusia datang dan pergi, kehidupan tak pernah beranjak walau sedikitpun. Konon, energi dalam kehidupan ini kekal, terus menerus ulang-mengulang dan memperbaharui dirinya dengan sistem evolusi genetik yang rumit. Ia menetap, selalu ada, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi tidak ada. Sebab tidak mungkin dari ada menjadi tiada. Sama tidak mungkinnya dari tidak ada menjadi ada. Berubah bentuk, mungkin.


Ini semua seperti kesibukan jalan-jalan ibu kota negara dunia ketiga pada hari yang teramat terik. Matahari seperti mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk memberi panas pada kota ini. Asap-asap kendaraan yang tergesa, membumbung memenuhi langit kota. Udara terasa berat, pengap, dan tidak mengabarkan apa-apa selain rasa lelah yang sudah hampir tidak tertangguhkan lagi. Langit seperti hendak runtuh. Lalu terdengar bunyi siren polis yang memekakkan telinga. Seolah terjadi sesuatu yang amat genting. Teramat penting. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Hanya rombongan menteri yang tergesa-gesa untuk menghadiri mesyuarat karana ia lewat bangun pagi, mungkin kerana semalam baru saja bercinta dengan perempuan simpanannya.

Ini semua seperti percakapan yang terusir dari meja, kemudian mencari tempat berdiamnya masing-masing. Ruang lengang serupa geng-geng ibukota selepas pukul tiga. Ada gelap dan dingin sekaligus pendar cahaya redup dalam keharusan yang tidak perlu. Seperti lampu-lampu kota, terduduk memunggungi nasibnya masing-masing.

Ini semua seperti keriuhan pesta perayaan ulang tahun. Teman, sahabat, rakan kerja, semua bersorak gembira. Gelas-gelas kosong, botol-botol bir tergeletak sembarangan. Musik, dansa-dansi, hingga pagi. Seolah ada yang benar-benar penting untuk dirayakan. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Hanya usia yang bertambah dan waktu yang menelanjangi sisa-sisa jatah hidup.

Ini semua seperti percintaan yang romantis dengan kekasih. Bunga-bunga, sajak-sajak, cerita-cerita, nama-nama kota, percakapan-percakapan, jalan-jalan, lagu-lagu, filem-filem. Semuanya nampak menjadi penuh erti. Berjalan berdua di bawah payung di waktu petang yang hujan, masuk angin pun tak jadi soal. Semua nampak romantis. Padahal tidak. Biasa-biasa saja. Percintaan, pada gilirannya hanya memberikan pilihan untuk menetap dan saling menyakiti atau pergi dan saling melupakan.

Ini semua seperti kehidupan yang seolah-olah nyata, benar-benar sedang berlangsung. Hanya saja, dalam perjalanan ini, tidak ada tujuan pasti.


Cerpen ini diambil dari laman Medium Azhar Rijal Fadlilah. Anda boleh baca versi berbahasa Indonesia DI SINI.